Informasi Seputar PT. NSHE & PLTA Batang Toru / Detail

Orangutan dan pembangkit listrik tenaga air dapat hidup berdampingan

26 Jul 2019

Jakarta Post mempublikasikan sejumlah artikel opini tentang kontroversi pembangunan pembangkit listrik tenaga air (HEPP) di Sungai Batang Toru, Sumatera Utara. Menurut sejumlah kelompok pegiat lingkungan, pembangunan itu mengancam spesies endemik orangutan di Tapanuli.

Belum lama ini pada 20 Juli, Erik Meijaard dan Serge Wich dalam tulisannya menyarankan penghentian proyek pembangkit itu karena dapat menyebabkan kepunahan jenis kera langka dan terbesar di muka bumi itu.

Sebagai orang yang kuliah di bidang biologi konservasi, saya kok terganggu dengan mereka yang menentang proyek pembangkit listrik tenaga air itu. Konon, katanya, proyek itu dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengganggu kelangsungan hidup orangutan Tapanuli.

Saya dukung ketegasan dan efektivitas skema perlindungan untuk menjamin kelangsungan hidup semua spesies yang terancam punah, tidak hanya orangutan tetapi juga harimau Sumatra, tapir, dan lain sebagainya. Namun, saya juga mendukung pembangkit dengan energy ramah lingkungan.

Indonesia adalah penghasil karbon terbesar ketiga dan masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, sebagian besar diesel dan batubara, untuk menghasilkan listrik. Proyek 30 persen bauran energi pemerintah untuk menghasilkan listrik berupa energi baru dan terbarukan.

Pembangkit listrik tenaga air Batang Toru akan menggantikan generator diesel mengambang yang memasok listrik 500 megawatt ke Sumatera Utara. Proyek ini akan mengurangi 1,6 hingga 2,2 juta ton emisi karbon per tahun atau 4 persen dari target pengurangan emisi untuk tingkat nasional berdasarkan Perjanjian Paris. Pembangkit ini merupakan salah satu proyek strategis nasional bidang energi baru dan terbarukan.

Sebagai mantan pegiat lingkungan dan kini anggota kelompok Perubahan Iklim, saya juga peduli apakah proyek dan orangutan bisa hidup berdampingan dan saling mendukung.

Pertanyaan bermula dari pemahaman bahwa mencegah perubahan iklim dengan mengganti energi berbasis bahan bakar fosil dengan energi terbarukan sama pentingnya dengan kelangsungan hidup orangutan. Kelangsungan hidup orangutan, bahkan manusia, bergantung pada pengembangan energi terbarukan. Oleh karena itu, keduanya harus dapat hidup berdampingan dan memberi dampak positif satu sama lain.

Oleh sebab itu, ketika saya mempelajari kontroversi ini, saya terkejut dengan temuan saya.

Mereka yang menentang proyek Batang Toru telah menyesatkan khalayak soal informasi mengenai dampak dan area operasi dan foot print HEPP (pembangkit listrik tenaga air). Pertama, di artikel dan surat media nasional atau internasional, mereka mengatakan HEPP akan membanjiri 7.000 hektar habitat orangutan, yang mengakibatkan kepunahan. Namun, dokumen itu menyebutkan 7.000 hektar lahan untuk eksplorasi, survei, dan perencanaan. Sebenarnya lahan untuk konstruksi jauh lebih kecil tidak lah sebesar itu.

Saya pelajari ternyata informasi itu berasal dari sumber yang tidak terpercaya dan kini sudah dicabut karena didasarkan pada asumsi yang salah tanpa verifikasi dari pengembang HEPP. Kini argumennya beralih area terdampak sekitar 5.968 hektar, dan 5.155 ha dikategorikan sebagai hutan primer.

Kedua, penentang proyek Batang Toru memakai argumen yang digunakan untuk menentang bendungan besar. Saya bagian dari gerakan menentang bendungan besar pada era 1990-an itu.

Mereka tetap beranggapan Batang Toru masih menggunakan opsi sistem bendungan besar, padahal sebenarnya menggunakan sistem limpasan permukaan sungai. Sebenarnya, HEPP foot print Batang Toru mencapai 122 ha, dengan gangguan sementara meliputi 650 ha.

Meijaard dan Wich menyatakan pembangkit listrik tenaga air adalah ancaman utama bagi populasi orangutan karena akan memisah populasi di timur (162 dan 24 individu) dari populasi besar di barat, karena pembangunan itu berada di area dengan kepadatan populasi orangutan tertinggi di wilayah itu.

Mereka juga menyatakan hingga 2018, orangutan seharusnya dibiarkan membaur di antara mereka sehingga seolah-olah proyek itu lah yang memisahkan mereka selamanya.

Pernyataan itu bertentangan dengan temuan dalam artikel lain, "Orangutan Tapanuli: Status, ancaman, dan langkah-langkah untuk meningkatkan konservasi" dalam Conservation Science and Practice oleh Wich, bersama Gabriella Fredriksson, Graham Usher, Hjalmar S. Kuhl dan Matthew G Nowak edisi April. Menurut temuan mereka, blok barat dan timur dipisahkan oleh jalanan provinsi serta Sungai Batang Toru, dan masih belum jelas apakah orangutan masih bisa bergerak antara blok barat dan timur.

Dalam artikel di atas, orangutan di blok barat (533 individu atau 69,5 persen) hidup di hutan lindung dan sebenarnya merupakan populasi yang layak (lebih dari 500 individu dengan kemungkinan punah nol).

Sungguh menyedihkan populasi di blok timur (162) dan di reservasi Sibualbuali (24) tidak layak karena pemisahan dan fragmentasi jangka panjang, bencana akibat manusia dan alam. Namun, kita perlu kritis melihat klaim bahwa HEPP akan menyebabkan orangutan punah dan mengubah populasi yang layak di barat menjadi populasi tak layak.

Skenario terburuk, jika perlawanan HEPP benar, adalah proyek itu bakal langsung mempengaruhi 42 orangutan di area yang terdampak proyek hidro dan secara tak langsung mempengaruhi populasi di Sibualbuali (24). Proyek ini tak mempengaruhi 533 individu di blok barat yang merupakan hutan lindung maupun 162 individu di blok timur.

Mengingat ancaman lain seperti tambang emas, perburuan dan konversi hutan, tentu saja orangutan terancam punah. Mereka memerlukan habitat yang dikelola dengan baik.

Pertanyaan berikutnya apakah populasi orangutan di Sibualbuali layak jika proyek hidro dihentikan. Saya ragu itu. Menguasai 7.000 ha lahan untuk izin lokasi proyek, perusahaan harus mengembalikan 6.350 hektar kepada pemerintah. Ancaman masih ada.

Sebaliknya, akankah orangutan terlindungi jika proyek hidro itu melanjutkan upaya mitigasi? Tentu saja, karena tuduhan bahwa jalan yang dibangun untuk proyek akan berdampak pada spesies itu tidak benar. Jalan itu untuk kalangan sendiri dan hanya dapat diakses seizin perusahaan. Hutan seluas 650 ha yang digunakan untuk proyek ini akan tumbuh lebih baik ketimbang saat ini karena pembangkit listrik mikro hidro perlu penghijauan agar berjalan baik. Perusahaan dapat melakukan penanaman kembali di area dengan tanaman kesukaan orangutan.

Oleh karena itu saya merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk memastikan proyek dan orangutan hidup berdampingan:

  • - Meningkatkan status hutan lindung menjadi kawasan konservasi alam untuk orangutan, baik di blok barat dan timur.
  • - Melanjutkan proyek dengan upaya mitigasi yang ketat untuk mengurangi dampak terhadap orangutan.
  • - Mengembalikan APL sepanjang sungai ke lahan hutan dan meningkatkannya menjadi kawasan konservasi alam.
  • - Mengubah status hutan produksi dalam ekosistem Batang Toru menjadi kawasan konservasi alam untuk membuat koridor antara blok timur dan antara blok barat dan timur.
  • - Mengurangi dampak tambang emas, karena wilayah yang dulu memiliki kepadatan orangutan tertinggi, dan memantau perusahaan agar ketat menerapkan langkah-langkah mitigasi. Perkebunan harus dilarang di wilayah tersebut.
  • - Bekerja bersama penduduk setempat untuk memberi kompensasi hilangnya kesempatan dan menciptakan peluang ekonomi untuk mengurangi risiko pembunuhan dan perburuan liar dan konversi hutan menjadi perkebunan.

Pewarta:
Copy Right: The Jakarta Post
Sumber: The Jakarta Post
 Post Free Ad