Menjaga Kondisi Lingkungan

Pelestarian lingkungan dan konservasi alam sekitar termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Batangtoru mendapatkan perhatian penting dari manajemen PLTA Batangtoru. Hal ini karena keberlangsungan PLTA Batang Toru tergantung pada ketersediaan pasokan air sebagai sumber tenaga utama pembangkit. Ketergantungannya pada keteraturan suplai air dari alam, menyebabkan kebutuhan untuk melestarikan hutan dan DAS Batang Toru menjadi bagian (inclusive) dari PLTA Batangtoru.

Ketersediaan air tidak hanya sebagai sarana untuk menghasilkan listrik tetapi juga untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati. Sehingga, pengelola PLTA Batangtoru perlu memastikan kelestarian hutan dan daerah aliran sungai Batangtoru sebagai bagian dari proyek ini. Dan demi menjamin ketersediaan air, maka PLTA Batang Toru memiliki kewajiban untuk memelihara hutan sebagai sumber cadangan air dan memperbaiki kerusakan di sepanjang DAS Batang Toru. terutama bagian hulu.

AMDAL

Dalam pembangunan proyek PLTA Batang Toru, ada kewajiban manajemen/ perusahaan untuk selalu memperhatikan aspek lingkungan terutama dampak dan implikasi yang mungkin terjadi disebabkan pembangunan proyek PLTA.

Meski berdiri di lahan berstatus APL dengan luas amat kecil, pengelola menyadari bahwa proyek ini dikelilingi kawasan konservasi yang artinya, kelestarian lingkungan di kawasan ini.harus diperhatikan. Resiko dan dampak lingkungan dan sosial perlu dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan sehingga proyek PLTA Batangtoru dapat berjalan sesuai dengan rencana. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan harus mendukung kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu PLTA Batang Toru melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai suatu syarat utama pembangunan PLTA. Bahkan dalam penerapan AMDAL perusahaan secara sukarela mengadopsi standard kinerja (performance standard) dari International Finance Corporation (IFC), oleh karenanya berlaku hirarki mitigasi demi melindungi keanekaragaman hayati di sekitar lokasi proyek yang di dalamnya termasuk tentang Biodiversity conservation and Management of Living Natural Resources.

Terdapat tiga pilar penting yang menjadi dasar dalam menerapkan kebijakan pembangunan PLTA Batangtoru yaitu GREEn (ramah lingkungan), SAFE (aman), dan WELFARE (kesejahteraan).

PLTA Batang Toru juga telah membuat RKL/RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan/Rencana Pemantauan Lingkungan), dan untuk memenuhi standard internasional (Performance Standard IFC) telah dilakukan studi ESHIA (Environmental, Social and Health Impact Assessment) oleh Environmental Resources Management (ERM) sebagai konsultan lingkungan perusahaan.

MITIGASI

Berdasarkan studi-studi tersebut direncanakan tindakan-tindakan mitigasi terhadap potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan proyek, yaitu:

  • Tindakan yang dilakukan terhadap potensi dampak negatif adalah dihindari (avoid) apabila memungkinakan untuk dihindari.
  • Apabila tidak dapat dihindari kemudian diminimalisasi (minimalize), atau dikelola.
  • Langkah terakhir adalah melakukan penggantian (offset) terhadap residu dampak.
  • Biodiversity offset adalah melakukan kegiatan-kegiatan konservasi sumberdaya alam termasuk perbaikan habitat, peningkatan populasi, dan lain-lain.

BIODIVERSITY

  • Untuk menjalankan program Biodiversity Offset saat ini sedang dalam tahap pembahasan rencana kerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Sumatera Utara, sebagai pemegang otoritas manajemen CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
  • Sebagai arahan terhadap pengelolaan lingkungan, perusahaan menyiapkan Biodiversity Action Plan yang disusun bersama-sama perusahaan dan konsultan internasional yaitu Environmental Resources Management (ERM).

Hirarki mitigasi yang diterapkan oleh PLTA Batangtoru dalam menerapkan pengelolaan lingkungan.

Beberapa langkah konkrit PLTA Batang Toru sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan di sekitar lokasi proyek antara lain:

  1. Membangun ruas jalan menuju PLTA Batangtoru yang dibangun paralel dengan Sungai Batangtoru sehingga meminimalkan terjadinya fragmentasi. Jalan dibuat dengan akses terbatas, sehingga meminimalisir adanya perburuan dan pembalakan liar di sekitar lokasi proyek.
  2. Mempertahankan vegetasi di bantaran Sungai Batangtoru agar kelestarian hutan di sekitar lokasi proyek terjaga.
  3. Membangun terowongan untuk mengalirkan air dari kolam tandon menuju powerhouse merupakan salah satu fasilitas yang dibangun di PLTA Batangtoru. Demi menjaga vegetasi di sekitar lokasi, terowongan sepanjang 13 kilometer ini dibangun di kedalaman 50-200 meter di bawah tanah. Sehingga bagian atas terowongan bisa tetap dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tumbuhan.