PLTA dan Energi Baru Terbarukan

Semakin menipisnya sumberdaya dan cadangan energi fosil serta semakin meningkatnya harga energi fosil di masa depan, maka penerapan energi baru terbarukan (EBT) yang didukung oleh teknologi berbasis energi bersih perlu dikelola secara berkelanjutan.

Pemanfaatan potensi EBT perlu dioptimalkan untuk menjaga ketahanan dan kemandirian energi. Potensi pemanfaatan EBT di Indonesia saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Dewan Energi Nasional (2016) menjelaskan bahwa sampai pada tahun 2015, potensi tenaga air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mini/mikro hidro (PLTMH) adalah 94.476 MW, sedangkan yang sudah dimanfaatkan hanya berkisar 5,3% dari total potensi.

Sungai Batangtoru menyimpan potensi energi baru terbarukan yang besar karena Sungai Batangtoru merupakan sungai terbesar di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sungai ini memiliki Panjang ±174 km dengan lebar mencapai 40-60 meter dengan kemiringan tebing sungai mencapai 45-60o.

Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan yang bersumber dari Sungai Batangtoru merupakan contoh nyata dalam skema pemanfaatan jasa lingkungan yang bersumber dari air untuk dikonversi menjadi energi listrik.


Sungai Batangtoru dapat dimanfaatkan potensinya sebagai energi baru terbarukan yang ramah lingkungan.


PLTA Batangtoru

Sungai Batangtoru menyimpan potensi energi baru terbarukan yang besar karena Sungai Batangtoru merupakan sungai terbesar di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sungai ini memiliki Panjang 174 km dengan lebar mencapai 40-60 meter dengan kemiringan tebing sungai mencapai 45-60o.

Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan yang bersumber dari Sungai Batangtoru merupakan contoh nyata dalam skema pemanfaatan jasa lingkungan yang bersumber dari air untuk dikonversi menjadi energi listrik.

PLTA Batangtoru merupakan PLTA tipe Peaker dengan kapasitas 4 x 127,5 MW yang dibangun dan dikelola oleh PT. North Sumatera Hydro Energy (PT. NSHE). Perusahaan ini telah menandatangani Purchasing Power Agreement (PPA) dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada 21 Desember 2015 untuk mengembangkan di Batangtoru. Pembangkit listrik ini adalah PLTA dengan kapasitas terbesar di Kabupaten Tapanuli Selatan dan diharapkan beroperasi pada 2022.

PLTA Batangtoru dibangun untuk memastikan terpenuhinya pasokan energi listrik di Sumatera Utara dan bukan untuk kepentingan beberapa pihak saja.

Dengan beroperasinya PLTA Batangtoru maka PLN tidak lagi memerlukan kapal pembangkit dari Turki yang saat ini sedang disewa PLN untuk memenuhi kebutuhan energi listrik Sumatera Utara.

Dengan kapasitas produksi hingga 510 MW, PLTA Batangtoru dapat memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara untuk mendukung beban puncak dan akan memasok energi sebesar 2.124 GWh/tahun atau 15% kebutuhan beban puncak Sumatera Utara.

Teknologi Run off River

PLTA Batang Toru didesain sebagai run-off-river, mirip seperti micro hydro, yang pengoperasiannya menyesuaikan dengan debit air sebuah sungai.

Keunggulan Run off River

  1. Tipe run-off-river tidak membendung atau menampung air seperti halnya pembangkit listrik tipe reservoir. Tipe run-off-hydro memanfaatkan air yang mengalir secara alamiah.
  2. Cadangan air tidak disimpan di reservoir melainkan disimpan secara alamiah di hutan-hutan yang berada di bagian hulu DAS Batangtoru.
  3. Berbeda dengan PLTA umumnya yang berkonsep reservoir, PLTA Batang Toru, tidak menggunakan dam raksasa (waduk) untuk menampung air, tapi hanya daily pond (kolam tandon harian). Karena itu, luas area genangannya juga kecil hanya 66 Ha, sangat jauh jika dibanding waduk-waduk PLTA yang memerlukan genangan ribuan hektar.

Lokasi dan Status Lahan PLTA Batang Toru

PLTA Batangtoru terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Areal konstruksi PLTA Batangtoru berada di Kecamatan Marancar, Sipirok, dan Batangtoru.

Proyek ini dibangun di atas lahan berstatus Areal Penggunaan Lain (APL). Sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P. 50/Menhut-II/2009 tentang Penegasan Status dan Fungsi Kawasan Hutan, APL merupakan areal bukan kawasan hutan sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Kawasan APL ini masih merupakan bagian dari kawasan ekosistem Batangtoru seluas 163.000 ha. Di dalam kawasan ini terdapat hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi. Lahan yang digunakan untuk struktur permanen ini hanya seluas 122 ha atau hanya 0,037% dari luas kawasan ekosistem Batangtoru.


Lokasi PLTA Batangtoru berada di Kabupaten Tapnuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.



Posisi PLTA Batang Toru di Kawasan Batang Toru

Proyek PLTA Batang Toru menempati bagian kecil dari kawasan Batangtoru Penggunaan lahan di dalam Kawasan Batangtoru beranekaragam, baik itu private sektor ataupun komunitas masyarakat. PLTA Batangtoru menduduki posisi terendah, yakni hanya 0,037% dari keseluruhan luas area Kawasan Batangtoru. Hutan Lindung menempati posisi teratas dalam penggunaan lahan di dalam Kawasan Batangtoru.

Land Uses Land Area (Ha) %
Protected Forest 151,373 47,10
Mining 130,300 40,43
Nature Reserve 18,979 5,89
Forest Consession 17,000 5,27
Community Plantation 2,948 0,92
Plantation Corporation 1,325 0,41
Geothermal 130 0,04
Batangtoru HEPP 122 0,037

Persentase penggunaan lahan di dalam Kawasan Batangtoru. PLTA Batangtoru dapat disebut juga PLTA Irit Lahan (Less Land HEPP) karena hanya 122 ha atau jika dipersentasekan hanya 0,037% dari seluruh Kawasan Batangtoru.

Tutupan Lahan

Tutupan Lahan Seluruh lahan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Batangtoru dibeli dari masyarakat dan transaksi jual-beli lahan telah diselesaikan pada tahun 2013-2016. Di dalam PLTA Batangtoru banyak ditemukan kebun campuran dengan dominasi vegetasi berupa tanaman budidaya seperti karet, aren, kopi, cokelat, durian, petai, dan jengkol. Berdasarkan Data Disbun Sumut (2017), diketahui bahwa keberadaan perkebunan rakyat tersebar dengan luas yang bervariasi, baik di Kecamatan Angkola Timur (361,50 Ha), Batangtoru (2.120,50 Ha), Marancar (61 Ha), dan Angkola Sangkunur (305 Ha).


Kebun campuran didalam area PLTA Batangtoru. Vegetasi didalamnya terdiri atas karet, aren, kopi, dan cokelat.
(Gambar ini diambil sebelum dilakukan kegiatan konstruksi September 2017)

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat pada area lingkar proyek berprofesi sebagai petani, baik itu petani karet, kopi, cokelat, padi, ataupun tanaman budidaya lainnya. Vegetasi-vegetasi tersebut bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batangtoru sehingga tak heran jika vegetasi-vegetasi tersebut, termasuk area persawahan banyak dijumpai di dalam area PLTA Batangtoru.


Area persawahan milik masyarakat di dalam proyek PLTA Batangtoru.
(Gambar ini diambil sebelum dilakukan kegiatan konstruksi September 2017).

Dinamika Perubahan

Tutupan Lahan Kawasan BatangtoruPerubahan tutupan lahan di Kawasan Batangtoru sudah lama terjadi. Melihat kembali studi yang telah dilakukan oleh Unep (2011) bahwa pada tahun 1990 sudah banyak ditemukan perkebunan, baik itu karet dan kopi didalam Kawasan Batangtoru, baik itu disekitar hutan lindung, kawasan konservasi, dan pada lahan dengan status Areal Penggunaan Lain. Seiring berjalannya waktu, perkebunan, kebun karet, dan kebun kopi semakin bertambah luasnya sehingga terjadi perubahan tutupan lahan yang cukup signifikan di dalam Kawasan Batangtoru. Koridor satwa liar yang menghubungkan hutan lindung dengan Cagar Alam Dolok Sibual-Buali pada tahun 1990 masih menyatu, tetapi sejak tahun 2000 koridor tersebut sudah terputus karena area perkebunan, kebun karet, dan kebun kopi yang semakin luas.

Peta Perubahan Tutupan Lahan Kawasan Batangtoru.

Peruntukan Lahan

Tabel dibawah ini menggambarkan peruntukan lahan PLTA Batangtoru. Sebagain besar jenis-jenis tanaman tersebut merupakan tanaman budidaya, baik itu karet, aren, cokelat, kopi, dan padi.

Kondisi ini menggambarkan bahwa areal tersebut telah mengalami modifikasi dan masyarakat menjalankan system agroforestry. Luas lahan yang digunakan sebagai tapak permanen PLTA Batang Toru hanya 122,5 Ha atau hanya 15% dari total lahan yang telah dibeli perusahaan, sisa lahan seluas 446,6 Ha atau 67% akan ditanami kembali (replanting).

Pemilihan jenis vegetasi untuk penanaman kembali, sesuai dengan kajian ilmiah untuk memperkaya sumber pakan satwa liar sehingga tersedianyaa sumber pakan yang beraneka ragam jenisnya untuk menunjang hidup dan perkembangbiakan satwa liar.

Peruntukan lahan PLTA Batangtoru

Peruntukan lahan PLTA Batangtoru

No. Lokasi Kecamatan Jenis Vegetasi Luas Pembelian
Lahan (Ha)
Luas Tapak
Permanen (Ha)
Luas Area
Pendukung (Ha)
Luas Area
Yang Akan
Ditanami Kembali
(Replanting) (Ha)
1. Power House Marancar Karet, Salak, Kemiri, Durian, Aren. 5,1 2,8 1,1 1,2
2. Intake DAM Sipirok Petai, Jengkol, Kemiri, Durian, Aren. 10,9 2,5 6,2 2,2
3. Switchyard Marancar Salak, Kemiri, Aren, Langsat, Jengkol. 7,2 5,6 0,3 1,3
4. Surgetank Marancar Coklat, Pisang, Salak. 1,9 1,5 0,3 0,1
5. Spoilbank Sipirok, Marancar, Batangtoru Karet, Torop/Terap, Durian, Salak, Aren, Kelapa Sawit, Sawah, Coklat. 185,6 185,6
6. Camp Sipirok, Marancar, Batangtoru Petai, Jengkol, Kemiri, Pisang, Ubi Kayu, Langsat, Coklat, Pisang, Durian, Salak, Aren. 42,6 5,6 3,8 33,2
7. Temporary Facilities Sipirok, Marancar, Batangtoru Karet, Padi/area persawahan, Aren, Kopi. 15,4 15,4
8. Access Road Sipirok, Marancar, Batangtoru Karet, Torop/Terap, Durian, Salak, Aren, Kelapa Sawit, Coklat, Pinang, Kemiri, Jengkol, Langsat. 260,4 29 88,4 143
9. Quarry Area Marancar Kelapa, Kebun campuran. 26,1 26,1
10. Daily Pondage Sipirok Karet, Petai, Jengkol, Ubi kayu. 69,7 63,5 6,2
11. Batu Satail Area Sipirok Durian, Jengkol Langsat, Petai, Aren, Kemiri, Karet. 32,3 32,3
12. Foot Print Transmission Line Marancar Salak, Kelapa, Pinang, Durian, Jengkol, Cokelat. 12 12 32,3
Total (Ha) 669,2 122,5 100,1 446,6
Persentase(%) 18 15 67

Pembangunan PLTA Batangtoru paralel dengan Sungai Batangtoru sehingga tidak membutuhkan lahan yang luas, oleh karenanya PLTA Batangtoru dikenal dengan sebuta Less Land HEPP (PLTA Irit Lahan). Vegetasi di kiri dan kanan Sungai Batangtoru dipertahankan agar kelestarian lingkungan tetap terjaga.

General layout PLTA Batangtoru yang menunjukkan bahwa pembangunan PLTA paralel dengan Sungai Batangtor.

Vegetasi dikanan dan kiri Sungai Batangtoru yang Dijaga Kelestariannya.

Perizinan

PLTA Batangtoru telah memiliki semua perijinan yang dibutuhkan, antara lain:.

  1. Location Permits (Ijin Lokasi)
  2. Environmental License (Ijin Lingkungan)
  3. Environmental Impact Analysis Permit (Ijin AMDAL)
  4. Surface Water Use License (Surat Ijin Penggunaan Air Permukaan, SIPAP)
  5. Electricity Supply Business License (IUPTL, Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik)
  6. Main Structures Construction Permits (IMB, Ijin Mendirikan Bangunan)
  7. Importers Identification Number – Produsen (Angka Pengenal Import – Produsen (API–P))
  8. Wood Utilization Permits (IPK, Ijin Pemanfaatn Kayu)
  9. Investment Permit (Ijin Prinsip Penanaman Modal)
  10. Own, Use, and Stoarge (magazine) explosive Permit (Ijin Kepemilikan, penggunaan, penyimpanan bahan peledak)
  11. Ijin Mempekerjakan Tenaga Asing

Pemindahan Penduduk – Resetelment

Lokasi proyek berada jauh dari perkampungan atau pemukiman sehingga tidak ada atau tidak terjadi pemindahan penduduk (resetlement) pada proyek PLTA Batangtoru..